di Vechta: August 2005

Samstag, August 27, 2005

sembilan

Freitag, August 26, 2005

Satu lagi...

"Ibuuuk, telepon...!!" seru anak saya lantang dari ruang tengah.

"Halo, selamat sore..." salam saya setelah meraih gagang telepon.

"Halo Pipin, ini Wantanee!" sambut teman saya kursus bahasa dengan ceria.

Tumben sekali dia telepon sore-sore.

"Begini, saya punya teman di Muenchen, dari Thailand juga seperti saya. Barusan dia telepon, katanya menemukan orang Indonesia di hotel M tempatnya bekerja. Tapi orang itu nggak bisa bicara bahasa Jerman maupun Inggris, bisanya hanya bahasa Indonesia. Teman saya tanya, barangkali saya punya teman dari Indonesia. Gimana, kamu mau membantu kan?" pintanya setelah bercerita panjang lebar.

"Tentu saja", sahut saya cepat tanpa berpikir panjang.

"Ok, tunggu sebentar ya... nanti teman saya itu akan menghubungi kamu", jawab Wantanee sebelum menutup telepon.

Hmm, ada apa ya? Tersesat di Muenchen? Ah, nggak mungkin. Rasanya mustahil, berada di Jerman tapi tidak bisa berbahasa Jerman maupun Inggris. Belum selesai saya mereka-reka kejadian di sana, telepon kembari berdering.

"Kriiing!!".

"Selamat sore", sambut saya cepat.

"Selamat sore, saya Sunantha, teman dari Wantanee. Saya menemukan seorang wanita terkurung di dalam kamar hotel tempat saya bekerja dalam keadaan menyedihkan. Saya kira dari Filipina atau Thailand, ternyata dari Indonesia. Dia hanya bisa berbicara bahasa Indonesia. Saya kasihan, tapi juga bingung menghadapinya. Tolong anda tanya ya, dia bagaimana dan membutuhkan apa".

"Ya...", jawab saya pendek penuh keheranan.

Tidak lama kemudian terdengar ratapan dan tangis pilu dari seberang sana. "Mbaak... tolong saya Mbaak... Saya ini TKI, kerja di Qatar, majikan saya kejam. Saya nggak tahan lagi... huuuuhuuu... tolong saya ya Mbak, toloong...".

"Uh, ah, eh...", mendadak lidah saya kelu. Aduh, bagaimana ini? Beberapa kali saya menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Mbak... Mbak ini namanya siapa? Asalnya dari mana?" tanya saya hati-hati. Hhh... barangkali dia TKI yang menjadi korban seperti yang sering saya baca di koran-koran tanah air. Tapi berhadapan langsung dan dimintai tolong seperti ini, sungguh saya tidak siap.

Terbata-bata sambil sesekali terisak menahan tangis, dia mulai bercerita.

Bernama Julaeha, 35 tahun, berasal dari Sumedang. Bersama suaminya yang hanya buruh tani musiman dan berpenghasilan tujuh ribu rupiah sehari dikaruniai dua orang anak. Sekarang kelas 6 dan kelas 2 SD, keduanya dititpkan di tempat kakak Julaeha. Berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, Julaeha menjadi TKI. Dua tahun kontrak pertamanya di Arab Saudi dilaluinya dengan lancar. Keluarga dengan dua orang anak yang menjadi majikannya ini sangat baik.

Merasa kehidupannya menjadi lebih baik, Julaeha kembali menandatangi kontrak untuk dua tahun berikutnya. Ditempatkan di Qatar. Kali ini majikannya tidak sebaik sebelumnya. Sebuah keluarga dengan delapan orang anak, lima laki-laki dan tiga perempuan. Kerja terus menerus tanpa henti, caci maki, dan kadang pelecehan seksual diterimanya hampir setiap hari. Selalu dikurung di rumah dengan alasan supaya tidak kabur (5 orang TKI sebelumnya selalu kabur karena tidak tahan perlakuan keluarga itu). Badannya kian kurus, selain penderitaan batin juga karena tidak pernah diberi makan. Yang dia makan hanyalah sisa-sisa makanan majikannya.

Yang dia inginkan sekarang adalah kabur. Lari dari hotel tempatnya menginap mumpung majikannya sedang keluar, kemudian mencari induk semang baru. Belakangan setelah mendengar anak saya menangis karena digoda kakaknya dia ngotot ingin ikut saya saja. Segala penjelasan saya tidak digubrisnya lagi. Juga ketika saya katakan bahwa jarak Muenchen dengan kota tempat saya tinggal sangat jauh. Lebih dari tujuh jam perjalanan menggunakan ICE, kereta paling cepat di Jerman.

Karena Paspor ditahan majikannya, tidak mungkin dia keluar tanpa indentitas. Juga hal yang tidak mungkin untuk mencari kerja di Jerman. Menjadi pekerja gelap lebih mustahil lagi. Sekitar dua atau tiga hari lagi majikan dan keluarganya nya melanjutkan liburan mereka ke London. Julaeha sendiri akan dipulangkan di Qatar. Saya sarankan turuti saja pulang ke Qatar. Nanti di sana minta tolong majikan teman baiknya (di Qatar Jualeha punya teman baik bernama Muslimah) untuk menelpon ke KBRI Qatar. Minta perlindungan.

Dia menolak keras. Pertama, kalau majikannya tahu dia bisa dihajar. Kedua, dia tidak mau pulang ke Indonesia karena semua biro jasa pemberangkatan TKI banyak yang tutup. Sedangkan dia masih ingin terus bekerja, mencari uang.

Sulit. Saat itu dia tidak memegang uang sepeserpun. Gajinya yang 600 real sebulan itu sudah tiga bulan tidak dibayarkan. Kalau dia kabur, bagaimana hidupnya nanti?

Begitulah, hampir dua jam Julaeha dan Ibu Sunantha bergantian berbicara dengan saya. Dengan bahasa Jerman pas-pasan, saya mencoba menjadi jembatan komunikasi mereka.

-------------------------

Di usianya yang ke 60, Indonesia masih luput memperhatikan Julaeha dan puluhan bahkan mungkin ratusan Julaeha-Julaeha lainnya. Orang-orang yang terpaksa berpisah dengan keluarga untuk bekerja di tempat yang jauh... dan bukan di negrinya sendiri.

Ibu Sunantha yang bukan orang Indonesia saja begitu peduli menolong sesamanya. Hanya karena sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Telepon itupun atas fasilitas Ibu Sunantha. Sedangkan saya? Apa yang bisa saya perbuat untuk menolong Julaeha? Rasa sedih, kesal, dan marah bergejolak keras di dada. Menyesali ketidakberdayaan ini.

Belakangan saya tahu, setelah suami saya mengabarkan berita ini ke sebuah mailing list yang anggotanya mayoritas mahasiswa Indonesia di Jerman, respon mereka positif. Ada beberapa orang yang kebetulan tinggal di Muenchen bersedia membantu. Semoga Julaeha mendapat pertolongan semestinya. Minimal mendapat penghiburan. Syukur bisa lebih dari itu.

Maafkan saya Julaeha, sedih sekali tidak bisa berbuat apa-apa...


Catatan: Sebuah kejadian nyata yang saya alami beberapa hari yang lalu..

Mittwoch, August 24, 2005

Yang tersisa dari Sail 2005


Sail Bremerhaven dilihat dari Riesenrad (spt bianglala di Dufan)
Mengunjungi Sail Bremerhaven beberapa saat yang lalu meninggalkan kenangan indah bagi kami sekeluarga. Melihat lebih dekat berbagai macam kapal layar dari berbagai negara, mendapatkan stempel khas mereka (syukurlah kami mendapatkan kesempatan langka ini), terlebih bisa berkunjung dan bertemu langsung dengan awak kapal Dewaruci.
Indonesia Kecil
Lihatlah antusiasme mereka saat Indonesia kecilku tiba
Selain itu, sampai sekarang Faza suka bersenandung, "Ding ding pak ding ding oi, ding ding pak ding ding..." (maaf kalau salah, saya tidak tahu bahasanya). Saya pun masih terngiang-ngiang lagu Stasiun Balapan (juga lagu-lagu campursari lainnya) yang dimainkan awak kapal Dewaruci ketika kita sedang makan siang di luar kapal. Hmm.... diantara semilir angin dan hangatnya sinar matahari, makan siang kita jadi nikmaaat sekali. Meski jauh, kampung halaman serasa dekat di hati...
Kibaran Merah Putih
Senja mulai turun dan dia tetap tegak di sana...
Oh, ya... masih ingat bendera bajak lautnya Dewaruci? Bendera itu ternyata dibuat sendiri. Salah satu awak kapal yang berasal dari Sunda dan beristrikan orang Surabaya itu mempunyai bakat menggambar yang luar biasa. Beliau pernah menggambar Bima di tengah laut sedang dililit ular naga di salah satu layar dengan menggunakan rolling (alat untuk mengecat tembok), ditawar orang sebesar 15 juta kurs rupiah (1500 euro?) saat berlabuh di Perancis. Bukan main, beliau sendiri sampai gemetar hasil karyanya dihargai begitu tinggi. Tapi maaf, tidak dijual. Rekan-rekan sejawatnya mengatakan bahwa pekerjaan bapak satu anak itu sebenarnya adalah pelukis dan sambilannya pelaut hehe... Lah, kalau bendera bajak laut itu dibuat sendiri, kenapa awak kapal lain begitu antusias 'mencuri'nya? Kenapa tidak menggambar sendiri saja? Oh, no... tidak ada nilai historisnya dong. Kibarannya sepanjang menjelajahi samudra itulah yang bernilai tinggi.
Kadang hal-hal yang kelihatan sepele menjadi sangat berharga bagi orang lain yang mengetahuinya.

Montag, August 22, 2005

1-2-3

Kali ini postingnya borongan ya...

1. Sepedaan lagi dan makan di luar
Seminggu kemarin, selama dua setengah hari berturut-turut cuaca sangat bagus. Sinar matahari adalah barang mewah di sini. Jangan sampai rugi. Cuaca cerah, matahari bersinar indah, maka nikmatilah... Dia tidak datang setiap hari, saat musim panas sekalipun. Hiks, padahal di Indonesia tidak kurang-kurang ya...

Memenuhi keinginan yang baru saja bisa naik sepeda, selama tiga hari itu acara kita berkeliling kota. Faza mulai saya ajak belajar menyusuri jalan-jalan di kota. Masih suka oleng juga sih, bahkan kadang menabrak semak-semak pagar rumah orang, gubraks! Nyengir aja dia... Pengendara sepeda lainnya biasanya maklum dengan pengendara sepeda yang masih berbendera tinggi seperti ini.

Meski jalur sepeda ada sendiri, pengendara mobil dari jauh biasanya mengurangi kecepatan demi mencegah hal-hal yang tidak terduga dari pengendara sepeda kecil ini. Karena belum stabil, bisa juga kan tiba-tiba Faza nyasar ke jalan besar?

Cuaca cerah, kenapa tidak makan di luar saja? Wow, gute Idee... Lagi-lagi kita bertiga (suBapak nggak jadi ikut) bersepeda sambil mencari tempat untuk makan di luar. Piknik. Tujuan kita Zitadellenpark, di sana banyak tempat enak untuk piknik.

Zitadellenpark Vechta: indah, lega dan nyaman
Makan di luar dalam arti yang sebenarnya, membawa makanan untuk dimakan di luar. Suasana lain ternyata berpengaruh juga pada nafsu makan. Fariz dan Faza makan banyak sekali. Cadangan yang saya bawa untuk suBapak, ludes dimakan mereka berdua. Kasihan, kelaparan sekali kau nak...?

Selesai makan, kita habiskan waktu dengan ngobrol, bermain kartu, bermain bumerang (dari plastik) dan terakhir bersepeda berkeliling. Kemudian pulangnya mampir beli ice cream, hmm... yummi....

2. Membuat dan Bermain Mikado
Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak mungkin sudah biasa. Jika permainan yang akan dimainkan itu kita buat dahulu sebelumnya tentu lebih mengasyikan bukan?

Tahukah permainan Mikado? Ketika saya kecil dulu sering sekali memainkannya (tapi entah dulu namanya apa). Rupanya cukup populer juga permainan ini di sini. Bahkan dalam bentuk besar untuk dimainkan di taman/luar rumah seperti ini.

Permainan yang berasal dari China ini awalnya dibuat dari gading gajah yang halus atau dari batangan kayu tipis. Dimainkan oleh dua orang atau lebih. Saya dulu menggunakan lidi. Karena di sini tidak punya sapu lidi, saya menggunakan tusuk sate yang bagian ujung runcingnya dihilangkan.

Tertarik membuatnya juga? Tidak sulit kok... silakan simak berikut ini.
Bahan-bahan: 30 buah tusuk sate yang sudah dibuang ujung runcingnya dan dua buah selotip berbeda warna, misalnya merah dan biru (punya kita berwarna kuning dan hitam). Kemudian,
- 6 batang diberi selotip merah 1 strip
- 6 batang diberi selotip merah 2 strip
- 2 batang diberi selotip merah 3 strip
- 2 batang selang-seling merah biru 4 strip
- 6 batang diberi selotip biru 1 strip
- 6 batang diberi selotip biru 2 strip
- 2 batang diberi selotip biru 3 strip

Aturan penilaian:
- 1 strip merah bernilai 1
- 2 strip merah bernilai 3
- 3 strip merah bernilai 5
- 4 strip selang seling bernilai 10
- 1 strip biru bernilai 2
- 2 strip biru bernilai 4
- 3 strip biru bernilai 6

Cara bermain:
- ketigapuluh batangan itu dijatuhkan di lantai
- kemudian kita ambil satu persatu dan batangan yang lain tidak boleh bergerak
- jika ada yang bergerak maka permainan dilanjutkan orang lain
- demikian seterusnya sampai habis
- pemain dengan skor tertinggi menjadi pemenang.

Permainan ini menurut saya bukan melulu permainan cewek. Cowok juga boleh, kalau mau... Fariz dan Faza bertahan (baca: tidak bosan) selama tiga hari berturut-turut. Mengasyikan, karena anak-anak juga dilibatkan dalam membuatnya.

3. Tag Book
Sebelumnya saya berterima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya pada Tina dan Widi yang sudah melemparkan Tag Book pada saya beberapa waktu yang lalu. Saya lupa, sungguh... Sekarang saya bayar ya... *ih, udah basi banget*

Saya senang membaca sejak kecil. Majalah hampir selalu berlangganan sejak saya kecil. Berturut-turut mulai dari Bobo, Ananda, Gadis, Mode, Femina, kemudian AyahBunda. Sekarang cuma sesekali saya membeli majalah. Biasa, kendala bahasa hehe... males mikirnya. Paling sering beli majalah untuk anak-anak.

Kalau buku, dulu lebih sering pinjam. Ada tetangga yang koleksi bukunya luar biasa.Terutama buku-buku karangan Enid Blyton, hampir semua ada. Ketika kuliah bacaan saya seputar sastra terjemahan seperti Perempuan di Titik Nol, Si Lugu, Okot p'Bitek, buku-buku Khalil Gibran, dll (judul pastinya banyak yang lupa) semuanya saya beli dengan menyisihkan uang saku saya. Dan satu lagi, Asterix... Beberapa sengaja saya beli di sini, seneng aja baca versi bhs Jerman. Lebih lucu dibanding yang terjemahan Indonesia. Kalau sebangsa Tintin, Lucky Luke, dsb lebih sering pinjam.

Begitu menikah, nah... yang dibeli buku-buku seputar keluarga dan anak. Sekarang beberapa buku saya tentang kehamilan dan merawat bayi beredar dari sepupu satu ke sepupu lainnya. Baguslah, jadi lebih bermanfaat daripada cuma berdebu di lemari. Setelah Fariz lahir saya mulai membeli buku anak-anak. Sampai sekarang. Karena anggaran terbatas, kita sekarang lebih sering pinjam di perpustakaan. Gratis lagi.

Buku yang terakhir saya beli:

- Brotbacken (buku resep)
- Die ersten Religionkenntnisse fuer Kinder 1 (untuk 3-6 tahun)
- Die ersten Religionkenntnisse fuer Kinder 2 (untuk 6 tahun keatas)
- Der Prophet und die Kinder
- Asterix und Latraviata (telat belinya karena sering kehabisan)
Itu aja yang masih di luar, yang lainnya udah lama masuk Umzugkarton.

Buku yang sedang saya baca saat ini adalah Trem, kumpulan cerpen (dulu dimuat di majalah bahasa Jawa Panyebar Semangat) karangan Suparto Brata. Hehe... asik juga, meski awalnya agak sulit untuk mengeja.

Tag book tidak saya lemparkan kepada siapa-siapa lagi. Sudah lewat musim, dan mungkin sudah kebagian semuanya.

Mittwoch, August 17, 2005

Sail Bremerhaven 2005

Sail Bremerhaven 2005 dari tanggal 10 – 14 August 2005 adalah festival Kapal Layar terbesar di Eropa. Bertempat di pelabuhan Bremerhaven, festival ini diikuti hampir 300 buah kapal dari 26 negara. Kapal-kapal itu dibagi menjadi 3 besar, yaitu kapal layar, kapal motor dan kapal uap, daftarnya bisa dilihat di sini.
Misalnya kapal Amerigo_Vespucci (Italy) yang mempunyai panjang 110 m. Kapal-kapal kembar seperti Gorch_Fock (Jerman), Sagres II (Portugal) dan Mircea (Rumania). Kapal yang dibuat tahun 80-an seperti Dar Mlodziezy (Polandia), Mir (Rusia) dan Khersones (Ukraina). Juga kapal-kapal klasik seperti Gloria (Kolumbia), Dewaruci (Indonesia), Christian Radich dan Sorlandet (Norwegia), Belem (Perancis), Astrid (Belanda) dan juga Krusenstern (Rusia).
Jika seluruh kapal layar sandar, akan memakan tempat seluas 82.000 qm. Jika berjajar satu sama lain akan sepanjang 6500 m. Karena terbatasnya tempat, kapal-kapal itu harus benar-benar rapat satu sama lain di dermaga. Benar-benar ujung bertemu ujung. Bahkan ada yang berjejer bersebelahan.
Wiken kemarin kita mengajak anak-anak untuk melihat dan mengenal lebih dekat kapal layar. Saat open ship kita bisa masuk ke kapal dan berinteraksi dengan krunya. Ada dispensasi jika kapal itu dari negara asal kita. Seperti kita yang sewaktu-waktu diijinkan masuk Dewaruci. Bahkan tidur disana juga boleh kalau mau. Masih banyak kabin yang kosong katanya. Wah, asik banget ya?
Jumat sore sebelum menuju pelabuhan kita sempat menikmati karnaval dari kru masing-masing kapal. Dari Oman menampilkan alat musik dan tarian mereka yang khas, Indonesia dengan reog Ponorogonya (ini paling heboh deh), Skotlandia dengan alat musik tiupnya, Rusia dengan akrobatnya dan masih banyak lagi.
Pemandangan pertama ketika sampai di pelabuhan adalah tiang kapal dan orang-orang sedemikian banyaknya. Sangat padat. Terlebih di atas jembatan yang sesekali harus ditutup karena kapal yang lewat. Hampir tidak bisa berjalan sejengkal pun. Macet total. Bukan main... Ditambah di sekitar pelabuhan berdiri juga stand-stand pasar malam yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman. Yang paling menyiksa, ketika berdesak-desakan terlihat dan tercium aroma mie goreng dari sebelah. Duuuhh, dingin-dingin begini... (coba nggak ada babinya...).
Tadinya kita bingung melihat arus orang-orang ini, ternyata ada antrian untuk mendapatkan stempel. Masing-masing kapal menyediakan tempat (di dalam kapal atau di dermaga di sisi kapal ybs) untuk melayani permintaan stempel atau pembelian souvenir. Wah, menarik nih... masing-masing kapal tentu punya stempel yang khas. Kesempatan langka. Keesokan harinya baru kita dapatkan kesempatan itu. Bayangkan saja, untuk satu putaran dermaga (itu belum semua kapal) memakan waktu lebih dari 4 jam. Ya sudahlah... tidak perlu semua, kita sudah tidak mampu berjalan lebih jauh lagi. Capek...

KRI Dewaruci

Anak-anak sangat antusias memasuki kapal ini. Mungkin serasa di tempat sendiri ya? Krunya baik dan ramah. Segala pertanyaan dan keingintahuan kita dijawab dengan baik. Termasuk pertanyaan anak-anak. "...hehe, gak reti aku mbak..." kata mereka pada saya dengan logat Surabaya yang kental setelah Faza bicara panjang lebar menceritakan sesuatu dalam bahasa Jerman.

Menjadi lebih menarik ketika kita diperbolehkan memasuki ruangan yang sebenarnya tertutup untuk umum. Ruang kemudi, tempat penyimpanan plakat-plakat souvenir dari tempat-tempat yang pernah disinggahi, ruang VIP, ruang makan, saloon, dsb. Ditawari kopi, teh atau jus jeruk. Dipersilakan mencicipi sayur dan lauk 'mahoni' (mau nggak mau ya ini hehe...). Ups, tapi rasanya... Indonesia banget deh. Lezat betul... Saya bayangkan jika ada badai, seluruh isi dapur pasti berantakan dan kacau balau. Apa yang mereka makan ketika juru masak (karena badai) tidak memasak? Mie instan tentu saja... atau berbekal lauk kering dari rumah kali ya?

Dewaruci berawak 81 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Obrolan makin asik ketika kita bertemu dengan daerah asal yang sama. Misalnya teman dari Kendari bertemu awak kapal dari Kendari, teman dari Surabaya bertemu awak Surabaya, teman yang sedang mangambil spesialisasi dokter bertemu dengan dokter kapal, dsb. Di sana obrolan lebih mengarah pada curhat.

Ternyata pelaut juga manusia biasa. Yang kadang mabuk ketika badai menggulung, yang kadang menyendiri dengan tatapan kosong ketika rasa rindu menghajar, yang kadang jum'atan sambil cekikikan karena ketika ruku' kapal oleng ke depan. Sangat membosankan selama berbulan-bulan di tengah lautan (dari Indonesia ke Jerman memakan waktu 4 bulan). Dan ketika mereka kembali ke Indonesia, anak yang mereka tinggalkan hampir setahun yang lalu tidak lagi mengenali bapaknya...


Fariz dan Faza di atas KRI Dewaruci
Oh, ya... ada satu hal yang sebenaranya menarik perhatian saya. Mengapa di kapal Dewaruci terpasang bendera bajak laut dengan ukuran cukup besar? (coba perhatikan foto di atas) Bajak laut melambangakan pelaut yang tangguh dan gagah berani. Tidak sembarang kapal berani memasang bendera ini. Menaklukan ombak dan badai, mengarungi tujuh samudera, menjelajahi lima benua. Tentu saja Dewaruci sudah melampauinya, sebagai kapal latih umurnya sudah mencapai 73 tahun.
Cerita menarik seputar bendera bajak laut ini, selama festival di Bremerhaven sudah lebih dari lima kali awak kapal dari negara lain mencoba mengambilnya. Tentu saja saat tengah malam, tapi selalu gagal karena ketahuan. Sebenarnya bendera yang sebelumnya lebih 'bagus', ada gambar darahnya. Pernah waktu berlabuh di Perancis, bendera itu tinggal seperempatnya (aus karena berkibar berbulan-bulan). Oleh awak kapal Belanda, bendera itu dipinjam, katanya untuk permainan. Dua jam kemudian, sesuai perjanjian, tidak dikembalikan. Diminta baik-baik tidak boleh. Langsung kapal Belanda itu di serbu. Wah, seru... kayak mau tawuran aja. Katanya sih, nilai historisnya itu yang tak ternilai.
Ternyata bendera-bendera kecil yang saat itu menjadi hiasan mempunyai arti jika berdiri sendiri. Ada yang melambangkan huruf A, artinya ada kegiatan menyelam. Atau huruf S, artinya di kapal tersebut sedang ada latihan. Atau bendera ular-ular perang (kapal sipil tidak memasang bendera ini) atau bendera genderang perang. Wah, tambah pengetahuan juga nih.
Malam terakhir festival mereka menggelar cocktail party. Beraneka ragam makanan khas Indonesia ada di sana. Kapal Dewaruci benar-benar penuh sesak oleh undangan dan masyarakat Indonesia di Jerman. Acara kesenian yang digelar antara lain tari reog, tari saman, rampak kendang (sampai terpal samping dibuka agar bisa dilihat dari bawah), dan diakhiri dengan poco-poco (akhirnya kapal dibuka untuk umum karena banyak yang menghendaki bergabung). Kabarnya baru kali ini sambutan dari masyarakat (Indonesia maupun umum) sungguh luar biasa.
Hari berikutnya mereka kembali berlayar. Menuju Belanda untuk menjemput 80 orang taruna. Diperkirakan sekitar bulan Desember sampai kembali di Indonesia. Selamat jalan Dewaruci... seberat apapun beban yang dibebankan padamu, semoga tetap berjaya dan gagah perkasa...

Dienstag, August 16, 2005

Sepedaan

Akhirnya...
Akhirnya Faza bisa naik sepeda. Horreee...!!
Setelah dibujuk-bujuk (kadang diancam juga hehe.... nggaklah, maksudnya kita kan udah mau pulang, sepedanya cepat atau lambat kan harus dibuang juga...) akhirnya Faza dengan berat hati mau belajar naik sepeda lagi. Awalnya... saat diajak belajar lagi, dia menolak dengan berbagai macam alasan yang 'lucu'. Seperti yang jempol tangannya sakit-lah (hehe... kan nggak ada hubungannya Za...) atau hidungnya sakit-lah... (hihi, makin ngawur aja bikin alasan...).

Minggu pagi itu saya ajak (lagi) Faza ke Uni, di tempat parkirnya yang cukup luas. Saya carikan tempat yang tidak rata dengan maksud agar dia belajar keseimbangan dengan cara meluncur. Satu dua kali masih kikuk, lama-lama mulai merasa asik. Dan akhirnya tanpa dia sadari sudah bisa meluncur cukup jauh.
Setelah istirahat dan makan siang, kita kembali ke lokasi latihan sepeda tadi. Saya dan Fariz sibuk memberi instruksi untuk meluncur sambil mencoba mengayuh. Saya dan Fariz makin semangat, justru Faza makin stress karena merasa tidak nyaman. Hehe... sorry ya Za, kita cuma ingin kamu cepet bisa naik sepeda (ih, maksa deh!).
Karena bosan, lama-kelamaan Fariz asik dengan sepedanya sendiri dan saya sibuk dengan kamera. Tidak ada lagi yang memperhatikan Faza. Begitu saya menoleh, lho... Faza sudah mengayuh sepeda. Huaaaa.... saya teriak-teriak sampai keluar air mata. Rasanya bahagiaaa banget. Kemudian saya lari mengejarnya dan memeluknya. Hehe... sinetron banget yah? (untung parkiran itu sepi)
Sebelumnya saya sempat disarankan untuk membeli laufrad untuk Faza. Sebuah sepeda tanpa pedal kayuh. Tujuannya sih untuk belajar keseimbangan saja. Harganya lumayan untuk kantong saya padahal masa pakainya tidak akan lama. Akhirnya saya memilih scooter. Di rumah sudah ada, tidak perlu membeli lagi. Setelah Faza cukup menguasai scooter (baca: bisa menjaga keseimbangan) itulah saya ajak lagi untuk belajar bersepeda.
Hari-hari berikutnya kebetulan cuaca cukup bagus, saya ajak Fariz dan Faza bersepeda ke hutan. Saya belum berani mengajak Faza ke jalan. Selain masih belum stabil, Faza belum menguasai aturan bersepeda di jalan. Berbahaya.
Bersepeda di hutan memang menyenangkan, hawanya sejuk. Seiring dengan turunnya suhu dan makin tingginya curah hujan, semakin sering kita jumpai bermacam-macam jamur di sana. Tentu saja kita nggak berani memetiknya karena kita nggak punya buku panduan tentang jamur. Mana yang boleh dimakan dan mana yang beracun atau berbahaya jika dimakan.
Ketika melewati daerah pertanian kita jumpai rumah-rumah 'pak tani' yang khas. Lengkap dengan gudang besar untuk menyimpan hasil panen, kandang ternak, juga tempat parkir traktor-traktor mereka. Di sekitarnya akan tampak ladang gandum yang siap panen, atau tanaman jagung yang mulai meninggi. Kadang juga pohon apel yang lebat oleh merah buahnya. Hmm... santapan mata dan hati yang nikmat...
Semoga suatu saat nanti petani Indonesia bisa seperti petani di sini. Melek informasi, mampu membeli dan menggunakan peralatan modern untuk memaksimalkan hasil pertaninan mereka.

Mittwoch, August 10, 2005

Faza... Faza...

TAUSCHEN
Pada suatu hari, kita bertiga sholat Maghrib berjamaah. Dapat satu raka'at, Faza mulai bicara.
Faza : Mas Fariz, tauschen (tukeran tempat) yook...
SuIbuk : ??? *sambil menahan geli*
Fariz : Ssst, kalau sholat itu nggak boleh bicara...
Faza : Ya udah, aku diem aja...
Mereka kemudían diam, nggak ngobrol lagi. Masuk raka'at terakhir terdengar Fariz cekikikan, sibuk menahan tawa. Ketahuan setelah salam, ealaaah... ternyata mereka bener-bener sudah tukar tempat.

ANAKNYA SATU SAJA
Fariz dan Faza memang cukup sering bertengkar. Suatu kali Faza mengadu lagi:
Faza: Ibuk, kenapa Mas Fariz nggak dibuang aja?
SuIbuk: Kok dibuang? Kenapa?
Faza: Mas Fariz udah jelek (yeee, emang barang).
SuIbuk: Lhoo... nanti Faza nggak punya teman di rumah.
Faza: *masih sewot* Kenapa sih, Ibuk anaknya nggak satu aja?
SuIbuk: Hehe... Za... Za... kalau anaknya cuma satu kamu itu nggak ada...

MAS FAZA
Suatu siang setelah makan siang di ruang tengah.
Faza : Buk, kenapa aku bukan Mas Faza? Kenapa itu Fariz jadi Mas Fariz?
SuIbuk : Mas Faris itu dipanggil Mas karena sudah punya adik, dik Faza.
Faza : Aku nggak mau... Apa tauschen (ditukar) aja, aku Mas Faza dan itu Dik Fariz?
SuIbuk : Ya nggak bisa, kan lahirnya duluan Mas Fariz. Apa Faza pengen punya adik?
Faza : Mau, tapi adiknya dua ya... Junge (laki-laki) sama Mädchen (perempuan)...
SuIbuk : Trus, kalau ada adiknya nanti Faza sama siapa? (selama ini Faza masih sering nempel Bu Pipin, kalau malam tidurnya juga masih suka nyusul).
Faza : Mm, ya aku nanti sama Bapak aja..
SuIbuk : Kalau Faza sama bapak dan Ibuk sama adik, trus Mas Fariz sama siapa?
Faza : He he he.... *sambil ketawa geli* biar Mas Fariz nggak punya orang besar... (maksudnya Fariz nggak punya teman)
Keesokan harinya, begitu bangun tidur Faza langsung tanya:
Faza : Buk, adiknya mana? Kenapa lama sekali nggak datang-datang? Aku mau adiknya itu sekarang...
SuIbuk: Waduh, ya nggak bisa cepet gitu dong Za...

CUMA ISINYA
Suatu siang saya sedang di kamar, di luar tiba-tiba Faza teriak-teriak panik. Pokoknya teriak-teriak nggak karuan... tapi nggak nangis.
SuIbuk : Faza kenapa?
Faza terus pegang-pegang mulutnya sambil terus teriak-teriak. Sambil lewat tadi saya memang lihat di meja dapur ada sebuah cabe yang terbuka. Cabenya utuh, tapi sisinya sobek dan bijinya keluar...
SuIbuk : Faza apa makan cabe?
Faza : Nggak... sssshhhh... hhhhaaahhhh...... aku nggak makan cabe.... ssshhh.....
Setelah minum buanyaaaak sekali dan sudah bisa ditanya-tanya lagi:
SuIbuk : Trus itu tadi Faza habis makan apa? Pedes ya?
Faza : Aku tuh nggak makan cabe, cuma isinya aja...

IKUT BAPAK SEKOLAH
Faza : Bapak mana Buk?
SuIbuk : Nganter Mas Fariz beli kacamata baru... Hayo, kemaren siapa yang bikin kacamata Mas Fariz patah? (kemarin mereka berdua bertengkar dan kacamata Fariz patah)
Faza diem aja... seolah-olah nggak denger apa-apa.
Faza : Aku tuh mau ikut Bapak sekolah...
SuIbuk : Ya nggak boleh, Faza kan sudah punya sekolah sendiri...
Faza : Sudah boleh kok sama Bapak...
SuIbuk : *dengan sedikit curiga* Oh, ya...? Bapak bilang gimana coba?
Faza : Besok Freitag (Jumat) aja ya, Faza ikut Bapak sekolah... gitu...
SuIbuk : trus, Faza bilang apa?
Faza : aku bilang... *dengan suara dikecilkan* ... iya...
Hari Jumat seminggu yang lalu Faza diijinkan Bapaknya ikut ke Uni sebentar. Karena akhir minggu, suasana Uni sudah sepi. Jadi kalau Faza mau nyusul nggak papa, tidak mengganggu yang lain. Sepulang dari optik, saya tanya suBapak... apa bener, besok Jumat Faza boleh ikut ke Uni.
SuBapak : Ha ha ha... Ibuk berhasil ditipu Faza... Aku nggak bilang apa-apa kok...
SuIbuk: Habis, mukanya itu meyakinkan sekali...

TES KUPING
Karena beberapa hari Faza sepertinya tidak begitu mendengar saya agak curiga. Ini nggak dengar beneran atau memang sengaja nggak mendengarkan? Saya coba test, bicara dengan nada pelan/berbisik.
SuIbuk : Faza jelek... (Fariz kalau digituin biasanya langsung bereaksi).
Faza cuma diem aja. Coba diulangi kok tetep nggak bereaksi. Wah, agak deg-deg-an juga nih... Jangan-jangan harus ke dokter kuping lagi nih. Coba sekali lagi deh...
SuIbuk : Faza pinter...
Faza : Ya... aku denger... Faza pinter...
SuIbuk : Lho, tadi kok nggak denger?
Faza : *sambil cuek* Kalau yang jelek-jelek aku memang nggak denger kok....

Dienstag, August 02, 2005

Beberapa hari ini...


Karena sebab inilah kita beberapa minggu terakhir ini mulai sibuk bebenah. Mulai mengepak barang, memilah-milah mana yang akan di bawa pulang, mana yang masih dipakai di sini, dan mana yang dibuang... Tiap wiken nyicil ngecat rumah dan bongkar karpet. Satu demi satu ruangan di selesaikan. Kemudian mulai cerewet pada anak-anak untuk tidak mengotori tembok.
Pulang? Iya, pulang ke Indonesia, für immer. Jangan tanya bagaimana rasanya. Senang karena akan pulang habis, tapi juga sedih meninggalkan segala sesuatu yang sudah hampir empat tahun kita jalani di sini. Kadang terbersit pertanyaan, kapan ya bisa ke sini lagi? Mungkin lewat mimpi dulu deh... belum tau...
Insya Allah, anak-anak sajalah yang ke sini lagi untuk meneruskan sekolahnya. Beasiswa dong ya... bayar sendiri mana kuat. Sekolah yang pinter ya nak, biar besok bisa balik ke Jerman lagi. Barangkali mengasyikan ya ketemu lagi dengan teman-teman karib dari masa kecil. Fariz ketemu lagi dengan Yevgenij dan Faza ketemu lagi dengan Vincent.
Sesuatu yang saya rasakan berat untuk ditinggalkan adalah kenyamanan. Salah satunya kenyamanan di bidang kesehatan. Selama di sini kita selalu mendapatkan penanganan yang baik, tanpa risau memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. Apalagi Fa-Fa beberapa kali harus menjalani operasi kecil (ntar diceritain tersendiri deh, tapi kalo nggak lupa lho ya... hehe...)
Liburan Sekolah
Liburan musim panas kali ini kita tidak punya rencana liburan kemana-mana. Untuk mengisi liburan, Fariz ikut Sommerferienprogram di
gulfhaus. Ada 70-an lebih program yang ditawarkan berdasarkan kelompok umur. Biasanya untuk acara 'bikin-bikin' atau 'pergi-pergi' harus daftar dan bayar (bayarnya murah banget deh...), tapi ada juga yang gratis tapi harus daftar karena tempat terbatas. Untuk acara permainan kelompok biasanya sih gratis, tinggal dateng dan ikut gabung aja sesuai jamnya.
Hampir tiap hari tuh kegiatannya, kecuali wiken. Program ini membantu banget untuk yang tidak punya rencana liburan keluar. Acara banyak diselenggarakan di hari biasa, jadi waktu wiken tetap milik keluarga.
Untuk 'bikin-bikin' Fariz milih Knetten zum selbermachen (bikin playdough) dan Traumfänger basteln (aduh, yang ini susah jelasinnya... pokoknya kayak kerajinan orang indian deh...). Sebenarnya Fariz pengen ikutan sirkus juga (pagi sampai sore bikin alat-alat sirkus dan latihan, kemudian di akhir waktu mereka tampil di panggung) sayang tempatnya udah penuh. Ada satu lagi yang Fariz kepengen banget, yaitu Raketenfahrzeug bauen (bikin roket), lagi-lagi udah penuh. Yah, sayang banget...
Trus, kalau yang 'pergi-pergi' Fariz pilih ke Indoorspielplatz Bullermeck. Dulu pernah sih ke Indoorspielplatz Towabu Bremen. Karena udah tahu bakal asik banget, jadi pengen ikut. Lagian kan tempatnya beda, gitu alasannya. Yang kedua Fariz ikut ke Kletterwald Thüle. Dari namanya udah ada gambaran bahwa di sana acaranya maen tali. Memanjat, meluncur, meniti... dari satu pohon besar ke pohon besar yang lainnya, kayak Robin Hood (waduh... pengen juga nih kalau yang beginian, jadi inget maen tali jaman SMA dulu).
Lah kalo yang gratis tapi mesti daftar itu antara lain kursus bowling, kursus tennis, kursus golf, latihan berkuda... Dan lagi-lagi tempatnya sudah penuh... (eh, yang berkuda itu untuk usia 10 tahun keatas). Skak tadinya pengen ikut, tapi nggak jadi... males katanya. Masak liburan disuruh mikir lagi sih? Walah, alasan saja dikau ini Riz... hehe...
Owiyah, ada satu kegiatan seru nih... judulnya Filmnacht. Fariz diantar ke Gulfhaus jam 8 malam. Sampai sana, bertempat di aula kita memompa kasur angin dan menggelar kantong tidur. Dan Fariz siap nonton 'layar tancep' semalam suntuk. Bayangin, ada 6 film tuh yang diputar... lembuuurr. Meskipun sudah ada yang pernah ditonton (di Kino atau dari VCD), tetep aja ditonton semua filmnya sama Fariz. Paginya dijemput jam 8 (udah dikasih sarapan juga di sana), sampai rumah trus klipuk. Tidur, klenger sampai tengah hari... hihi... pulang ronda ya bang?
Kalau yang gratis dan tidak perlu daftar biasanya berupa permainan kelompok. Bagus banget untuk latihan bersosialisasi. Lagian yang ikutan hampir seumuran dan dari sekolah yang berbeda-beda, kebanyakan belum saling kenal. Tambah teman, tambah pengalaman dan menyenangkan... Kalau di Indonesia bikin program paket liburan kayak gini laku nggak ya?
Kadang sambil nunggu Fariz mengikuti kegiatan, saya dan Faza bikin kegiatan sendiri. Piknik di Zitadellenpark belakang Gulfhaus. Tapi ya gitu, saking asiknya Faza malah ketiduran. Wah, enak ya Za, semilir angin sepoi-sepoi... asal jangan masuk angin aja.
Fazas Kindergarten
Sehubungan dengan kepulangan kita itu, tahun pelajaran yang akan datang Faza tidak lagi ke Kindergarten. Tanggung sih, masuk cuma sebulan. Kalau sekolah sih gratis, tapi Kindergarten kan bukan sekolah, jadi harus bayar dan cukup mahal untuk kantong mahasiswa seperti kita. Makanya Faza diluluskan aja dulu, besok dilanjutkan di Indonesia saja ya Za...
Oleh gurunya dibuatkan acara perpisahan. Dari pagi memang saya sengaja ikut Faza sekolah, pengen meliput untuk terakhir kalinya. Rencana setelah acara perpisahan saya mau pulang. Lha kok, ternyata acaranya ditaruh di jam terakhir... ya udah, seharian deh saya jadi guru bantu di kelasnya Faza hehe...
Memenuhi keinginan Faza, saya membuat burung-burungan dari kertas dan juga sebuah pesawat terbang yang digantung di ranting untuk dibagikan pada seluruh teman sekelasnya (sekitar 20-an anak). Mayan juga, butuh dua hari untuk melipat dan menggantungnya di ranting. Hasilnya lucu, warna-warni... Selain itu, Faza juga membawa eis untuk dimakan bersama teman-temannya. Fazanya sih enjoy aja, lah saya ini yang bolak-balik berkaca-kaca... Wah, sudah dekat yah dengan waktu pisah.
Dibantu dengan foto dan video semoga Faza nantinya selalu ingat akan pengalamannya sekolah di Jerman. Senjata kita disini ya cuma itu, digicam dan camcorder... Rasanya tidak ada yang lebih bergharga daripada kenangan itu (wah, nangis deh saya... hiks!).