Samstag, August 27, 2005
Freitag, August 26, 2005
Satu lagi...
"Halo, selamat sore..." salam saya setelah meraih gagang telepon.
"Halo Pipin, ini Wantanee!" sambut teman saya kursus bahasa dengan ceria.
Tumben sekali dia telepon sore-sore.
"Begini, saya punya teman di Muenchen, dari Thailand juga seperti saya. Barusan dia telepon, katanya menemukan orang Indonesia di hotel M tempatnya bekerja. Tapi orang itu nggak bisa bicara bahasa Jerman maupun Inggris, bisanya hanya bahasa Indonesia. Teman saya tanya, barangkali saya punya teman dari Indonesia. Gimana, kamu mau membantu kan?" pintanya setelah bercerita panjang lebar.
"Tentu saja", sahut saya cepat tanpa berpikir panjang.
"Ok, tunggu sebentar ya... nanti teman saya itu akan menghubungi kamu", jawab Wantanee sebelum menutup telepon.
Hmm, ada apa ya? Tersesat di Muenchen? Ah, nggak mungkin. Rasanya mustahil, berada di Jerman tapi tidak bisa berbahasa Jerman maupun Inggris. Belum selesai saya mereka-reka kejadian di sana, telepon kembari berdering.
"Kriiing!!".
"Selamat sore", sambut saya cepat.
"Selamat sore, saya Sunantha, teman dari Wantanee. Saya menemukan seorang wanita terkurung di dalam kamar hotel tempat saya bekerja dalam keadaan menyedihkan. Saya kira dari Filipina atau Thailand, ternyata dari Indonesia. Dia hanya bisa berbicara bahasa Indonesia. Saya kasihan, tapi juga bingung menghadapinya. Tolong anda tanya ya, dia bagaimana dan membutuhkan apa".
"Ya...", jawab saya pendek penuh keheranan.
Tidak lama kemudian terdengar ratapan dan tangis pilu dari seberang sana. "Mbaak... tolong saya Mbaak... Saya ini TKI, kerja di Qatar, majikan saya kejam. Saya nggak tahan lagi... huuuuhuuu... tolong saya ya Mbak, toloong...".
"Uh, ah, eh...", mendadak lidah saya kelu. Aduh, bagaimana ini? Beberapa kali saya menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Mbak... Mbak ini namanya siapa? Asalnya dari mana?" tanya saya hati-hati. Hhh... barangkali dia TKI yang menjadi korban seperti yang sering saya baca di koran-koran tanah air. Tapi berhadapan langsung dan dimintai tolong seperti ini, sungguh saya tidak siap.
Terbata-bata sambil sesekali terisak menahan tangis, dia mulai bercerita.
Bernama Julaeha, 35 tahun, berasal dari Sumedang. Bersama suaminya yang hanya buruh tani musiman dan berpenghasilan tujuh ribu rupiah sehari dikaruniai dua orang anak. Sekarang kelas 6 dan kelas 2 SD, keduanya dititpkan di tempat kakak Julaeha. Berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, Julaeha menjadi TKI. Dua tahun kontrak pertamanya di Arab Saudi dilaluinya dengan lancar. Keluarga dengan dua orang anak yang menjadi majikannya ini sangat baik.
Merasa kehidupannya menjadi lebih baik, Julaeha kembali menandatangi kontrak untuk dua tahun berikutnya. Ditempatkan di Qatar. Kali ini majikannya tidak sebaik sebelumnya. Sebuah keluarga dengan delapan orang anak, lima laki-laki dan tiga perempuan. Kerja terus menerus tanpa henti, caci maki, dan kadang pelecehan seksual diterimanya hampir setiap hari. Selalu dikurung di rumah dengan alasan supaya tidak kabur (5 orang TKI sebelumnya selalu kabur karena tidak tahan perlakuan keluarga itu). Badannya kian kurus, selain penderitaan batin juga karena tidak pernah diberi makan. Yang dia makan hanyalah sisa-sisa makanan majikannya.
Yang dia inginkan sekarang adalah kabur. Lari dari hotel tempatnya menginap mumpung majikannya sedang keluar, kemudian mencari induk semang baru. Belakangan setelah mendengar anak saya menangis karena digoda kakaknya dia ngotot ingin ikut saya saja. Segala penjelasan saya tidak digubrisnya lagi. Juga ketika saya katakan bahwa jarak Muenchen dengan kota tempat saya tinggal sangat jauh. Lebih dari tujuh jam perjalanan menggunakan ICE, kereta paling cepat di Jerman.
Karena Paspor ditahan majikannya, tidak mungkin dia keluar tanpa indentitas. Juga hal yang tidak mungkin untuk mencari kerja di Jerman. Menjadi pekerja gelap lebih mustahil lagi. Sekitar dua atau tiga hari lagi majikan dan keluarganya nya melanjutkan liburan mereka ke London. Julaeha sendiri akan dipulangkan di Qatar. Saya sarankan turuti saja pulang ke Qatar. Nanti di sana minta tolong majikan teman baiknya (di Qatar Jualeha punya teman baik bernama Muslimah) untuk menelpon ke KBRI Qatar. Minta perlindungan.
Dia menolak keras. Pertama, kalau majikannya tahu dia bisa dihajar. Kedua, dia tidak mau pulang ke Indonesia karena semua biro jasa pemberangkatan TKI banyak yang tutup. Sedangkan dia masih ingin terus bekerja, mencari uang.
Sulit. Saat itu dia tidak memegang uang sepeserpun. Gajinya yang 600 real sebulan itu sudah tiga bulan tidak dibayarkan. Kalau dia kabur, bagaimana hidupnya nanti?
Begitulah, hampir dua jam Julaeha dan Ibu Sunantha bergantian berbicara dengan saya. Dengan bahasa Jerman pas-pasan, saya mencoba menjadi jembatan komunikasi mereka.
Ibu Sunantha yang bukan orang Indonesia saja begitu peduli menolong sesamanya. Hanya karena sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Telepon itupun atas fasilitas Ibu Sunantha. Sedangkan saya? Apa yang bisa saya perbuat untuk menolong Julaeha? Rasa sedih, kesal, dan marah bergejolak keras di dada. Menyesali ketidakberdayaan ini.
Maafkan saya Julaeha, sedih sekali tidak bisa berbuat apa-apa...
Catatan: Sebuah kejadian nyata yang saya alami beberapa hari yang lalu..
Mittwoch, August 24, 2005
Yang tersisa dari Sail 2005



Lihatlah antusiasme mereka saat Indonesia kecilku tiba
Montag, August 22, 2005
1-2-3
1. Sepedaan lagi dan makan di luar
Seminggu kemarin, selama dua setengah hari berturut-turut cuaca sangat bagus. Sinar matahari adalah barang mewah di sini. Jangan sampai rugi. Cuaca cerah, matahari bersinar indah, maka nikmatilah... Dia tidak datang setiap hari, saat musim panas sekalipun. Hiks, padahal di Indonesia tidak kurang-kurang ya...

Meski jalur sepeda ada sendiri, pengendara mobil dari jauh biasanya mengurangi kecepatan demi mencegah hal-hal yang tidak terduga dari pengendara sepeda kecil ini. Karena belum stabil, bisa juga kan tiba-tiba Faza nyasar ke jalan besar?
Selesai makan, kita habiskan waktu dengan ngobrol, bermain kartu, bermain bumerang (dari plastik) dan terakhir bersepeda berkeliling. Kemudian pulangnya mampir beli ice cream, hmm... yummi....
2. Membuat dan Bermain Mikado
Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak mungkin sudah biasa. Jika permainan yang akan dimainkan itu kita buat dahulu sebelumnya tentu lebih mengasyikan bukan?
Tahukah permainan Mikado? Ketika saya kecil dulu sering sekali memainkannya (tapi entah dulu namanya apa). Rupanya cukup populer juga permainan ini di sini. Bahkan dalam bentuk besar untuk dimainkan di taman/luar rumah seperti ini.
Permainan yang berasal dari China ini awalnya dibuat dari gading gajah yang halus atau dari batangan kayu tipis. Dimainkan oleh dua orang atau lebih. Saya dulu menggunakan lidi. Karena di sini tidak punya sapu lidi, saya menggunakan tusuk sate yang bagian ujung runcingnya dihilangkan.

Bahan-bahan: 30 buah tusuk sate yang sudah dibuang ujung runcingnya dan dua buah selotip berbeda warna, misalnya merah dan biru (punya kita berwarna kuning dan hitam). Kemudian,
- 6 batang diberi selotip merah 1 strip
- 6 batang diberi selotip merah 2 strip
- 2 batang diberi selotip merah 3 strip
- 2 batang selang-seling merah biru 4 strip
- 6 batang diberi selotip biru 1 strip
- 6 batang diberi selotip biru 2 strip
- 2 batang diberi selotip biru 3 strip

- 1 strip merah bernilai 1
- 2 strip merah bernilai 3
- 3 strip merah bernilai 5
- 4 strip selang seling bernilai 10
- 1 strip biru bernilai 2
- 2 strip biru bernilai 4
- 3 strip biru bernilai 6
Cara bermain:
- ketigapuluh batangan itu dijatuhkan di lantai
- kemudian kita ambil satu persatu dan batangan yang lain tidak boleh bergerak
- jika ada yang bergerak maka permainan dilanjutkan orang lain
- demikian seterusnya sampai habis
- pemain dengan skor tertinggi menjadi pemenang.
Permainan ini menurut saya bukan melulu permainan cewek. Cowok juga boleh, kalau mau... Fariz dan Faza bertahan (baca: tidak bosan) selama tiga hari berturut-turut. Mengasyikan, karena anak-anak juga dilibatkan dalam membuatnya.
3. Tag Book
Sebelumnya saya berterima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya pada Tina dan Widi yang sudah melemparkan Tag Book pada saya beberapa waktu yang lalu. Saya lupa, sungguh... Sekarang saya bayar ya... *ih, udah basi banget*
Saya senang membaca sejak kecil. Majalah hampir selalu berlangganan sejak saya kecil. Berturut-turut mulai dari Bobo, Ananda, Gadis, Mode, Femina, kemudian AyahBunda. Sekarang cuma sesekali saya membeli majalah. Biasa, kendala bahasa hehe... males mikirnya. Paling sering beli majalah untuk anak-anak.
Kalau buku, dulu lebih sering pinjam. Ada tetangga yang koleksi bukunya luar biasa.Terutama buku-buku karangan Enid Blyton, hampir semua ada. Ketika kuliah bacaan saya seputar sastra terjemahan seperti Perempuan di Titik Nol, Si Lugu, Okot p'Bitek, buku-buku Khalil Gibran, dll (judul pastinya banyak yang lupa) semuanya saya beli dengan menyisihkan uang saku saya. Dan satu lagi, Asterix... Beberapa sengaja saya beli di sini, seneng aja baca versi bhs Jerman. Lebih lucu dibanding yang terjemahan Indonesia. Kalau sebangsa Tintin, Lucky Luke, dsb lebih sering pinjam.
Begitu menikah, nah... yang dibeli buku-buku seputar keluarga dan anak. Sekarang beberapa buku saya tentang kehamilan dan merawat bayi beredar dari sepupu satu ke sepupu lainnya. Baguslah, jadi lebih bermanfaat daripada cuma berdebu di lemari. Setelah Fariz lahir saya mulai membeli buku anak-anak. Sampai sekarang. Karena anggaran terbatas, kita sekarang lebih sering pinjam di perpustakaan. Gratis lagi.
Buku yang terakhir saya beli:
- Brotbacken (buku resep)
- Die ersten Religionkenntnisse fuer Kinder 1 (untuk 3-6 tahun)
- Die ersten Religionkenntnisse fuer Kinder 2 (untuk 6 tahun keatas)
- Der Prophet und die Kinder
- Asterix und Latraviata (telat belinya karena sering kehabisan)
Itu aja yang masih di luar, yang lainnya udah lama masuk Umzugkarton.
Buku yang sedang saya baca saat ini adalah Trem, kumpulan cerpen (dulu dimuat di majalah bahasa Jawa Panyebar Semangat) karangan Suparto Brata. Hehe... asik juga, meski awalnya agak sulit untuk mengeja.
Tag book tidak saya lemparkan kepada siapa-siapa lagi. Sudah lewat musim, dan mungkin sudah kebagian semuanya.
Mittwoch, August 17, 2005
Sail Bremerhaven 2005




KRI Dewaruci

Menjadi lebih menarik ketika kita diperbolehkan memasuki ruangan yang sebenarnya tertutup untuk umum. Ruang kemudi, tempat penyimpanan plakat-plakat souvenir dari tempat-tempat yang pernah disinggahi, ruang VIP, ruang makan, saloon, dsb. Ditawari kopi, teh atau jus jeruk. Dipersilakan mencicipi sayur dan lauk 'mahoni' (mau nggak mau ya ini hehe...). Ups, tapi rasanya... Indonesia banget deh. Lezat betul... Saya bayangkan jika ada badai, seluruh isi dapur pasti berantakan dan kacau balau. Apa yang mereka makan ketika juru masak (karena badai) tidak memasak? Mie instan tentu saja... atau berbekal lauk kering dari rumah kali ya?
Dewaruci berawak 81 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Obrolan makin asik ketika kita bertemu dengan daerah asal yang sama. Misalnya teman dari Kendari bertemu awak kapal dari Kendari, teman dari Surabaya bertemu awak Surabaya, teman yang sedang mangambil spesialisasi dokter bertemu dengan dokter kapal, dsb. Di sana obrolan lebih mengarah pada curhat.
Ternyata pelaut juga manusia biasa. Yang kadang mabuk ketika badai menggulung, yang kadang menyendiri dengan tatapan kosong ketika rasa rindu menghajar, yang kadang jum'atan sambil cekikikan karena ketika ruku' kapal oleng ke depan. Sangat membosankan selama berbulan-bulan di tengah lautan (dari Indonesia ke Jerman memakan waktu 4 bulan). Dan ketika mereka kembali ke Indonesia, anak yang mereka tinggalkan hampir setahun yang lalu tidak lagi mengenali bapaknya...

Dienstag, August 16, 2005
Sepedaan

Akhirnya Faza bisa naik sepeda. Horreee...!!
Setelah dibujuk-bujuk (kadang diancam juga hehe.... nggaklah, maksudnya kita kan udah mau pulang, sepedanya cepat atau lambat kan harus dibuang juga...) akhirnya Faza dengan berat hati mau belajar naik sepeda lagi. Awalnya... saat diajak belajar lagi, dia menolak dengan berbagai macam alasan yang 'lucu'. Seperti yang jempol tangannya sakit-lah (hehe... kan nggak ada hubungannya Za...) atau hidungnya sakit-lah... (hihi, makin ngawur aja bikin alasan...).
Minggu pagi itu saya ajak (lagi) Faza ke Uni, di tempat parkirnya yang cukup luas. Saya carikan tempat yang tidak rata dengan maksud agar dia belajar keseimbangan dengan cara meluncur. Satu dua kali masih kikuk, lama-lama mulai merasa asik. Dan akhirnya tanpa dia sadari sudah bisa meluncur cukup jauh.


Mittwoch, August 10, 2005
Faza... Faza...
Pada suatu hari, kita bertiga sholat Maghrib berjamaah. Dapat satu raka'at, Faza mulai bicara.
Faza : Mas Fariz, tauschen (tukeran tempat) yook...
SuIbuk : ??? *sambil menahan geli*
Fariz : Ssst, kalau sholat itu nggak boleh bicara...
Faza : Ya udah, aku diem aja...
Mereka kemudían diam, nggak ngobrol lagi. Masuk raka'at terakhir terdengar Fariz cekikikan, sibuk menahan tawa. Ketahuan setelah salam, ealaaah... ternyata mereka bener-bener sudah tukar tempat.
ANAKNYA SATU SAJA
Fariz dan Faza memang cukup sering bertengkar. Suatu kali Faza mengadu lagi:
Faza: Ibuk, kenapa Mas Fariz nggak dibuang aja?
SuIbuk: Kok dibuang? Kenapa?
Faza: Mas Fariz udah jelek (yeee, emang barang).
SuIbuk: Lhoo... nanti Faza nggak punya teman di rumah.
Faza: *masih sewot* Kenapa sih, Ibuk anaknya nggak satu aja?
SuIbuk: Hehe... Za... Za... kalau anaknya cuma satu kamu itu nggak ada...
MAS FAZA
Suatu siang setelah makan siang di ruang tengah.
Faza : Buk, kenapa aku bukan Mas Faza? Kenapa itu Fariz jadi Mas Fariz?
SuIbuk : Mas Faris itu dipanggil Mas karena sudah punya adik, dik Faza.
Faza : Aku nggak mau... Apa tauschen (ditukar) aja, aku Mas Faza dan itu Dik Fariz?
SuIbuk : Ya nggak bisa, kan lahirnya duluan Mas Fariz. Apa Faza pengen punya adik?
Faza : Mau, tapi adiknya dua ya... Junge (laki-laki) sama Mädchen (perempuan)...
SuIbuk : Trus, kalau ada adiknya nanti Faza sama siapa? (selama ini Faza masih sering nempel Bu Pipin, kalau malam tidurnya juga masih suka nyusul).
Faza : Mm, ya aku nanti sama Bapak aja..
SuIbuk : Kalau Faza sama bapak dan Ibuk sama adik, trus Mas Fariz sama siapa?
Faza : He he he.... *sambil ketawa geli* biar Mas Fariz nggak punya orang besar... (maksudnya Fariz nggak punya teman)
Keesokan harinya, begitu bangun tidur Faza langsung tanya:
Faza : Buk, adiknya mana? Kenapa lama sekali nggak datang-datang? Aku mau adiknya itu sekarang...
SuIbuk: Waduh, ya nggak bisa cepet gitu dong Za...
CUMA ISINYA
Suatu siang saya sedang di kamar, di luar tiba-tiba Faza teriak-teriak panik. Pokoknya teriak-teriak nggak karuan... tapi nggak nangis.
SuIbuk : Faza kenapa?
Faza terus pegang-pegang mulutnya sambil terus teriak-teriak. Sambil lewat tadi saya memang lihat di meja dapur ada sebuah cabe yang terbuka. Cabenya utuh, tapi sisinya sobek dan bijinya keluar...
SuIbuk : Faza apa makan cabe?
Faza : Nggak... sssshhhh... hhhhaaahhhh...... aku nggak makan cabe.... ssshhh.....
Setelah minum buanyaaaak sekali dan sudah bisa ditanya-tanya lagi:
SuIbuk : Trus itu tadi Faza habis makan apa? Pedes ya?
Faza : Aku tuh nggak makan cabe, cuma isinya aja...
IKUT BAPAK SEKOLAH
Faza : Bapak mana Buk?
SuIbuk : Nganter Mas Fariz beli kacamata baru... Hayo, kemaren siapa yang bikin kacamata Mas Fariz patah? (kemarin mereka berdua bertengkar dan kacamata Fariz patah)
Faza diem aja... seolah-olah nggak denger apa-apa.
Faza : Aku tuh mau ikut Bapak sekolah...
SuIbuk : Ya nggak boleh, Faza kan sudah punya sekolah sendiri...
Faza : Sudah boleh kok sama Bapak...
SuIbuk : *dengan sedikit curiga* Oh, ya...? Bapak bilang gimana coba?
Faza : Besok Freitag (Jumat) aja ya, Faza ikut Bapak sekolah... gitu...
SuIbuk : trus, Faza bilang apa?
Faza : aku bilang... *dengan suara dikecilkan* ... iya...
Hari Jumat seminggu yang lalu Faza diijinkan Bapaknya ikut ke Uni sebentar. Karena akhir minggu, suasana Uni sudah sepi. Jadi kalau Faza mau nyusul nggak papa, tidak mengganggu yang lain. Sepulang dari optik, saya tanya suBapak... apa bener, besok Jumat Faza boleh ikut ke Uni.
SuBapak : Ha ha ha... Ibuk berhasil ditipu Faza... Aku nggak bilang apa-apa kok...
SuIbuk: Habis, mukanya itu meyakinkan sekali...
TES KUPING
Karena beberapa hari Faza sepertinya tidak begitu mendengar saya agak curiga. Ini nggak dengar beneran atau memang sengaja nggak mendengarkan? Saya coba test, bicara dengan nada pelan/berbisik.
SuIbuk : Faza jelek... (Fariz kalau digituin biasanya langsung bereaksi).
Faza cuma diem aja. Coba diulangi kok tetep nggak bereaksi. Wah, agak deg-deg-an juga nih... Jangan-jangan harus ke dokter kuping lagi nih. Coba sekali lagi deh...
SuIbuk : Faza pinter...
Faza : Ya... aku denger... Faza pinter...
SuIbuk : Lho, tadi kok nggak denger?
Faza : *sambil cuek* Kalau yang jelek-jelek aku memang nggak denger kok....
Dienstag, August 02, 2005
Beberapa hari ini...
Sesuatu yang saya rasakan berat untuk ditinggalkan adalah kenyamanan. Salah satunya kenyamanan di bidang kesehatan. Selama di sini kita selalu mendapatkan penanganan yang baik, tanpa risau memikirkan biaya yang harus dikeluarkan. Apalagi Fa-Fa beberapa kali harus menjalani operasi kecil (ntar diceritain tersendiri deh, tapi kalo nggak lupa lho ya... hehe...)


